MSDS (Muskuloskeletal Disorders) adalah suatu gangguan nyeri yang terjadi pada leher, punggung, pinggang, serta kaki dan bagian lainya akibat posisi atau sikap kerja yang salah. Hal ini dikarenakan karena aktifitas yang berlebihan saat bekerja dan hal ini biasanya membuat para pekerja mengalami absen untuk bekerja apalagi kita tahu ketika di rumah sakit yang sering mengalami gangguan MSDS dimana yang paling rentang mengalami salah satunya yaitu perawat.
Kita tahu nyeri tulang punggung belakang adalah
nyeri yang terjadi pada punggung atas dan tengah , punggung bawah, dan tulang ekor. Adapun tulang belakang rentan
terhadap cedera, gangguan, atau regangan karena fungsi utamanya yang menahan
postur dan beban tubuh. Tulang belakang juga sangat terlibat dalam pergerakan
badan bagian atas, seperti memutar dan membungkuk. Disini nyeri dapat terjadi
karena cedera yang tiba-tiba atau karena penggunaan berlebihan pada tubuh.
Adapun resiko gangguan Muskuloskeletal Disorders dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adanya sikap paksaan dalam menggunakan kekuatan untuk melakukan suatu kegiatan dalam hal mengangkat mendorong, menarik, ataupun membawa benda-benda berat. Selanjutnya, melakukan yang namanya aktifitas yang terus berulang dengan memakai otot atau sendi yang sama, dan bagaimana postur tubuh membungkuk serta memutar tubuh dalam waktu yang cukup lama. Adapun gejala yang ditimbulkan dari gangguan Muskoloskeletal Disoreders dimana menimbulkan nyeri, kelelahan, gangguan ketika tidur, adanya kesemutan, adanya mati rasa pada tubuh atau kekauan, otot menjadi melemah.
Gangguan Muskoloskeletal
Disoreders yang dirasakan oleh perawat tidak hanya merugikan dirinya
sendiri namun juga merugikaan bagi pihak rumah sakit dimana dia bekerja.
Perawat yang mengalami keluhan Muskoloskeletal
Disoreders berarti sama halnya ia mengalami gangguan kesehatan dalam
tubuhnya yang apabila tidak segera diobati dan tidak dicegah dapat menjadi
lebih parah. Bila kesehatan para perawat terganggu maka akan menjadi tidak
poduktif sehingga tidak dapat bekerja serta tidak dapat fokus terhadap
pekerjaan yang dia lakukan. Sedangkan, bagi pihak rumah sakit sendiri akan
mengalami kerugian akibat dari hilangnya waktu kerja dan menurunnya
produktivitas serta kualitas dari perawat sehingga proses kerja akan
menjadi terhambat dan menjadi tidak
maksimal dalam melakukan pelayanan kepada pasien.
Perawat menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan yang ada di
rumah sakit apalagi saat sekarang ini dari pandangan saya pribadi kondisi
sekarang pasien yang masuk rumah sakit sangat banyak terutama di rumah sakit
swasta apalagi untuk ibu hamil. Perawat yang bekerja di bagian instalasi rawat
inap memiliki jadwal shift yang sangat berbeda-beda contohnya dari shift pagi
saja jam 08.00-14.00 bisa mencapai 6-7 jam kerja, shift siang mulai jam
14.00-21.00 bisa mencapai 8 jam kerja, dan shift malam saja mulai jam
21.00-08.00 pagi bisa mencapai 12 jam kerja. Dari jadwal shift yang paling lama
adalah shift malam.
Dalam setiap shift disini banyak sekali aktiftas yang biasa dilakukan
bisa saja sampai pagi untuk mendapatkan menit istirahat sangatlah susah. Adapun aktifitas berulang yang biasa
dilakukan oleh perawat misalnya mulai dari mengangkat, mendorong, bediri,
membungkuk salah satu contohnya dari ruang operasi pasien di pindahkan kembali
di brangkar untuk di bawah keruang pemulihan dari ruang pemulihan biasanya
pasien 5-6 jam baru di pindahkan ke ruang perawatan dan disni kita kembali mendorong
pasien saat sampai ke ruang perawatan kita kembali mengatur tetesan cairan
infus dan kateter pasien dan dari sini kita kembali melakukan sikap/ postur
tubuh yang membungkuk. adapun pasien yang dipindahkan biasa melebihi dari
delapan pasien dari shift kerja kita bayangkan saja ketika dalam sehari ada
operasi 5 atau 6 pasien dari berdiri bisa sampai mencapai 5 jam lebih sudah
membuat bagian anggota tubuh mulai dari punggung sampai kaki sudah mengalami
gangguan nyeri.
Aktitiftas juga yang biasa dilakukan oleh perawat adalah melakukan
injeksi adapun jadwal injeksi berbeda-beda tergantung dari jadwal obat pasien
yang akan di suntikkan dari sini kita kembali melakukan sikap/ postur tubuh
yang tidak bagus sebab ketika obat disuntikkan ke pasien membuat kita kembali
membungkuk apalagi kita tahu biasanya dalam ruang rawat inap biasa mencapai 30
an pasien yang harus dilayani sedangkan petugas yang berjaga/ shift di ruangan
tersebut hanya 2 atau 3 orang saja, sungguh begitu lelahnya anggota badan ini.
Setelah melakukan injeksi biasanya perawat melanjutkan untuk melengkapi status
pasien yang kalau mau dikata bukan sedikit status rekam medis pasien yang ingin
di isi.
Dalam status rekam medis di dalamya adalah beberapa lembar yang harus
dilengkapi setiap perawat terutama bagian yang namanya CPPT atau kita sebut
catatan perkembangan pasien disni setiap kegiatan pasien atau tindakan yang
dilakukan kepada pasien harus di isi lengkap dimana di dalamnya ada hari,
tanggal, bulan, tahun dan jam serta tanda tangan perawat yang shift pada hari
itu lalu saat proses pengisian status rekam medis pasien biasnya postur tubuh
kita duduk sambil membungkuk dan lama kelamaan sangat membuat bahu dan pinggang
menjadi tidak nyaman. Dari pengalaman pribadi saya saat bekerja di rumah sakit
dari rekan sejawat yang saya wawancarai secara langsung mengenai keluhan
Muskuloskeletal Disorders yang dialami ketika bekerja sebagai perawat
kebanyakan dari mereka menjawab adanya rasa nyeri dibagian bahu dan bagian
pingang yang paling banyak, dan aktifitas yang paling dikeluhkan dari perawat
apabila di dalam ruangan operasi yang sangat lama berdiri dan membungkuk dalam
melakukan hecting atau menjahit luka ini adalah aktifitas yang paling membuat
tubuh menjadi tidak nyaman karena biasanya membutuhkan waktu berjam-jam.
Adapun dari segi promosi kesehatan dan keselamatan kerja yang alangkah
lebih baiknya dari management rumah sakit memberikan promosi mengenai efek apa
yang di timbulkan dari penyakit Muskuloskeletal ini dan bagaimana
meminimalkan rasa sakit nyeri yang ditimbulkan dari anggota tubuh yang terkena
efek oleh karena itu adanya dukungan dari pihak manajemen merupakan hal krusial
dalam kesuksesan program ergonomi. Manajemen harus menentukan tujuan dan target
dari proses ergonomi tersebut, mendiskusikannya dengan para staf medis
khususnya perawat dalam membuat tugas
dan tanggung jawab mengenai pekerjaan yang dilakukan. Setiap staf rumah sakit
harus dilakukan pendekatan dengan mengikutsertakan staf medis, dimana semua
staf dilibatkan langsung dalam hal penilaian dan mengidentifikasi serta menyediakan
informasi penting mengenai bahaya di tempat kerja yang akan terjadi. Dan disini
juga harusnya manajement harus memberikan pelatihan dimana disni merupakan
tolak ukur dalam proses ergonomi.
Dan dari pelatihan
ini petugas kesehatan khususnya perawat akan sadar mengenai bahaya dan
keuntungan mengenai ergonomi di tempat kerja, dan mengetahui gejala awal dari
timbulnya Muskoloskeletal
Disoreders.
Disini juga harusya adanya identifikasi masalah dari awal yang sangat penting
dari masalah gangguan ergonomic yang dihadapi staf medis di rumah sakit. Alangkah lebih baiknya juga dari pihak
menejement rumah sakit harus melakukan pelaporan tentang gejala-gejala apa saja
yang dialami staf rumah sakitnya terutama tenaga kesehatan dalam artian disni
perawat karena akan sangat membantu untuk mengetahui keluhan kesehatan yang
dialami petugas kesehatan yang dapat membantu untuk mencegah gejala yang lebih
berat dan kemungkinan akan terjadinya penyakit yang serius. Harusnya juga ada evaluasi yang dilakukan setiap bulanya untuk
tenaga kesehatan dari segala tindakan yang dilakukan yang mempengaruhi
timbulnya Muskoloskeletal
Disoreders.
By ; Rijalul Fikri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar