Senin, 26 Oktober 2020

NYERI TULANG BELAKANG PADA PERAWAT, PERLU PROGRAM PROMOSI K3


      MSDS (Muskuloskeletal Disorders) adalah suatu gangguan nyeri yang terjadi pada leher, punggung, pinggang, serta kaki dan bagian lainya akibat posisi atau sikap kerja yang salah. Hal ini dikarenakan karena aktifitas yang berlebihan saat bekerja dan hal ini biasanya membuat para pekerja mengalami absen untuk bekerja apalagi kita tahu ketika di rumah sakit yang sering mengalami gangguan MSDS dimana yang paling rentang mengalami salah satunya yaitu perawat.

     Kita tahu nyeri tulang punggung belakang adalah nyeri yang terjadi pada punggung atas dan tengah , punggung bawah, dan tulang ekor. Adapun tulang belakang rentan terhadap cedera, gangguan, atau regangan karena fungsi utamanya yang menahan postur dan beban tubuh. Tulang belakang juga sangat terlibat dalam pergerakan badan bagian atas, seperti memutar dan membungkuk. Disini nyeri dapat terjadi karena cedera yang tiba-tiba atau karena penggunaan berlebihan pada tubuh.

     Adapun resiko gangguan Muskuloskeletal Disorders dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adanya sikap paksaan dalam menggunakan kekuatan untuk melakukan suatu kegiatan dalam hal mengangkat mendorong, menarik, ataupun membawa benda-benda berat. Selanjutnya, melakukan yang namanya aktifitas yang terus berulang dengan memakai otot atau sendi yang sama, dan bagaimana postur tubuh membungkuk serta memutar tubuh dalam waktu yang cukup lama. Adapun gejala yang ditimbulkan dari gangguan Muskoloskeletal Disoreders dimana menimbulkan nyeri, kelelahan, gangguan ketika tidur, adanya kesemutan, adanya mati rasa pada tubuh atau kekauan, otot menjadi melemah.

       Gangguan Muskoloskeletal Disoreders yang dirasakan oleh perawat tidak hanya merugikan dirinya sendiri namun juga merugikaan bagi pihak rumah sakit dimana dia bekerja. Perawat yang mengalami keluhan Muskoloskeletal Disoreders berarti sama halnya ia mengalami gangguan kesehatan dalam tubuhnya yang apabila tidak segera diobati dan tidak dicegah dapat menjadi lebih parah. Bila kesehatan para perawat terganggu maka akan menjadi tidak poduktif sehingga tidak dapat bekerja serta tidak dapat fokus terhadap pekerjaan yang dia lakukan. Sedangkan, bagi pihak rumah sakit sendiri akan mengalami kerugian akibat dari hilangnya waktu kerja dan menurunnya produktivitas serta kualitas dari perawat sehingga proses kerja akan menjadi  terhambat dan menjadi tidak maksimal dalam melakukan pelayanan kepada pasien.

      Perawat menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan yang ada di rumah sakit apalagi saat sekarang ini dari pandangan saya pribadi kondisi sekarang pasien yang masuk rumah sakit sangat banyak terutama di rumah sakit swasta apalagi untuk ibu hamil. Perawat yang bekerja di bagian instalasi rawat inap memiliki jadwal shift yang sangat berbeda-beda contohnya dari shift pagi saja jam 08.00-14.00 bisa mencapai 6-7 jam kerja, shift siang mulai jam 14.00-21.00 bisa mencapai 8 jam kerja, dan shift malam saja mulai jam 21.00-08.00 pagi bisa mencapai 12 jam kerja. Dari jadwal shift yang paling lama adalah shift malam.

      Dalam setiap shift disini banyak sekali aktiftas yang biasa dilakukan bisa saja sampai pagi untuk mendapatkan menit istirahat sangatlah susah.  Adapun aktifitas berulang yang biasa dilakukan oleh perawat misalnya mulai dari mengangkat, mendorong, bediri, membungkuk salah satu contohnya dari ruang operasi pasien di pindahkan kembali di brangkar untuk di bawah keruang pemulihan dari ruang pemulihan biasanya pasien 5-6 jam baru di pindahkan ke ruang perawatan dan disni kita kembali mendorong pasien saat sampai ke ruang perawatan kita kembali mengatur tetesan cairan infus dan kateter pasien dan dari sini kita kembali melakukan sikap/ postur tubuh yang membungkuk. adapun pasien yang dipindahkan biasa melebihi dari delapan pasien dari shift kerja kita bayangkan saja ketika dalam sehari ada operasi 5 atau 6 pasien dari berdiri bisa sampai mencapai 5 jam lebih sudah membuat bagian anggota tubuh mulai dari punggung sampai kaki sudah mengalami gangguan nyeri.

        Aktitiftas juga yang biasa dilakukan oleh perawat adalah melakukan injeksi adapun jadwal injeksi berbeda-beda tergantung dari jadwal obat pasien yang akan di suntikkan dari sini kita kembali melakukan sikap/ postur tubuh yang tidak bagus sebab ketika obat disuntikkan ke pasien membuat kita kembali membungkuk apalagi kita tahu biasanya dalam ruang rawat inap biasa mencapai 30 an pasien yang harus dilayani sedangkan petugas yang berjaga/ shift di ruangan tersebut hanya 2 atau 3 orang saja, sungguh begitu lelahnya anggota badan ini. Setelah melakukan injeksi biasanya perawat melanjutkan untuk melengkapi status pasien yang kalau mau dikata bukan sedikit status rekam medis pasien yang ingin di isi.     

      Dalam status rekam medis di dalamya adalah beberapa lembar yang harus dilengkapi setiap perawat terutama bagian yang namanya CPPT atau kita sebut catatan perkembangan pasien disni setiap kegiatan pasien atau tindakan yang dilakukan kepada pasien harus di isi lengkap dimana di dalamnya ada hari, tanggal, bulan, tahun dan jam serta tanda tangan perawat yang shift pada hari itu lalu saat proses pengisian status rekam medis pasien biasnya postur tubuh kita duduk sambil membungkuk dan lama kelamaan sangat membuat bahu dan pinggang menjadi tidak nyaman. Dari pengalaman pribadi saya saat bekerja di rumah sakit dari rekan sejawat yang saya wawancarai secara langsung mengenai keluhan Muskuloskeletal Disorders yang dialami ketika bekerja sebagai perawat kebanyakan dari mereka menjawab adanya rasa nyeri dibagian bahu dan bagian pingang yang paling banyak, dan aktifitas yang paling dikeluhkan dari perawat apabila di dalam ruangan operasi yang sangat lama berdiri dan membungkuk dalam melakukan hecting atau menjahit luka ini adalah aktifitas yang paling membuat tubuh menjadi tidak nyaman karena biasanya membutuhkan waktu berjam-jam.

    Adapun dari segi promosi kesehatan dan keselamatan kerja yang alangkah lebih baiknya dari management rumah sakit memberikan promosi mengenai efek apa yang di timbulkan dari penyakit Muskuloskeletal ini dan bagaimana meminimalkan rasa sakit nyeri yang ditimbulkan dari anggota tubuh yang terkena efek oleh karena itu adanya dukungan dari pihak manajemen merupakan hal krusial dalam kesuksesan program ergonomi. Manajemen harus menentukan tujuan dan target dari proses ergonomi tersebut, mendiskusikannya dengan para staf medis khususnya perawat dalam  membuat tugas dan tanggung jawab mengenai pekerjaan yang dilakukan. Setiap staf rumah sakit harus dilakukan pendekatan dengan mengikutsertakan staf medis, dimana semua staf dilibatkan langsung dalam hal penilaian dan mengidentifikasi serta menyediakan informasi penting mengenai bahaya di tempat kerja yang akan terjadi. Dan disini juga harusnya manajement harus memberikan pelatihan dimana disni merupakan tolak ukur  dalam proses ergonomi.

    Dan dari pelatihan ini petugas kesehatan khususnya perawat akan sadar mengenai bahaya dan keuntungan mengenai ergonomi di tempat kerja, dan mengetahui gejala awal dari timbulnya Muskoloskeletal Disoreders. Disini juga harusya adanya identifikasi masalah dari awal yang sangat penting dari masalah gangguan ergonomic yang dihadapi staf medis di rumah sakit. Alangkah lebih baiknya juga dari pihak menejement rumah sakit harus melakukan pelaporan tentang gejala-gejala apa saja yang dialami staf rumah sakitnya terutama tenaga kesehatan dalam artian disni perawat karena akan sangat membantu untuk mengetahui keluhan kesehatan yang dialami petugas kesehatan yang dapat membantu untuk mencegah gejala yang lebih berat dan kemungkinan akan terjadinya penyakit yang serius. Harusnya juga ada  evaluasi yang dilakukan setiap bulanya untuk tenaga kesehatan dari segala tindakan yang dilakukan yang mempengaruhi timbulnya Muskoloskeletal Disoreders.


By ; Rijalul Fikri

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NYERI TULANG BELAKANG PADA PERAWAT, PERLU PROGRAM PROMOSI K3

      MSDS ( Muskuloskeletal Disorders )  adalah suatu gangguan nyeri yang terjadi pada leher, punggung, pinggang, serta kaki dan bagian lai...